Posts

Memaknai fungsi epistomologi yang ditumbuhkan oleh karya fiksi dan implementasinya secara praktis pada kehidupan

Oke gimana judulnya udah kaya mahasiswa tingkat satu gak ? hahahha.. sarkasme ni saya hehe, anyway kita tinggalkan sentiment satir saya soal mahasiswa yang melempem karena hidup yang udah serba enak yah.              Kalo ada yang tersinggung silahkan, biasanya yang tiba-tiba ngotot itu nutupin kebenaran fakta yang saya ungkap heheh.              Belakangan ini banyak orang sering marah-marah gak jelas yah spectrum pilpres itu nyampe juga ke akar rumput yah, jadi org2 dungu yang cuman modal dengerin band indie yang ngomongin politik berdasarkan bacaan buku yang arahnya doktrinisasi atau yang kajiannya standar kurikulum serta google dan Wikipedia itu sering anti sama yang namanya sejarah, filsafat dan opini.              Sejarah ? sejarah yang mana gitu kan pertanyaannya ? sejarah yang saya maksud adalah sejarah yang s...

Phenumonia, post hoc ergo propter hoc & overrated careness

              Pagi-pagi adik saya nanya, “sa tau phenumonia ?”, “ya, alika oge meninggal karena salah satu diagnosis penyakit itu juga “, saya nanya balik kan, “ kenapa emang ?” sampai akhirnya ceritalah tuh adik saya, katanya kalo temen pacarnya meninggal gara-gara itu, untuk orang yang gak tau, phenumonia itu adalah nama penyakit infeksi paru-paru gak perlu saya jelasin panjang lebar soal itu lah yah, saya juga bukan dokter.             Adik saya bilang, itu pasti karena rokok, dan katanya pembunuh terbesar di dunia salah satunya adalah penyakit ini, terus dia bilang kasian temen pacarnya yang meninggal itu, terus saya bilang “ ko kasian ? ko rokok sih ? “, adik saya jawab “ yah kasian ath, nya jelas ath rokok biasanya kan emang asap yang bikin orang kena penyakit infeksi paru-paru “, oke saya dengerin alesannya yang cuman berkutat dari rasa kasian dan paradox ironi soal rokok, saya bilang gini...

Presumption Fallacy dari idiom “Nakal Boleh, Bego Jangan“ by: Osel Resha

                Wah udah lumayan lama saya gak nulis, yah karena satu dan lain hal, lagi sibuk maen musik sama beresin semua buku yang udah saya listing untuk diberesin sih, jadi sedikit agak ke ganggu sih menuangkan pikiran di blognya, tapi akhirnya karena ada sesuatu yang menarik mau gak mau saya nulis juga .             Dan inilah problem yang kita bawa, menalar idiom atau statemen tentang “ nakal boleh,bego jangan”, jadi suatu ketika di tengah obrolan yang ngalor-ngidul bareng temen, dari mulai bernostalgia soal masalalu sampai mengkritisi kedunguan kami semua soal masalalu dengan pikiran yang agak waras bila bandingkan dengan dulu, sekarang kita banyak menertawakan itu, yang padahal dulu hal-hal dungu yang kita lakukan adalah ekspresi dari pengejawentahan eksistensial kami sebagai anak kecil,tapi tiba-tiba terdengarlah satu celutukan dari salah satu temen saya, yang dia bilang waktu itu...

Penyakit Kuning bayi, nirvana dan john lennon

  Here we are again, so what now ? just write … I meant literally, what now ? ohh I see, okey kenapa bayi kuning saat lahir ?             jadi bayi dalam kandungan ada dalam satu kondisi dimana dia tidak cukup memiliki oksigen di dalam Rahim, that’s why alam bikin satu kompensasi dengan menyediakan darah extra bagi bayi, dan demikian dimuatlah kepasitas extra untuk bayi terhadap oksigennya itu sendiri .             But, on the other hand, setelah kelahiran darah extra yang dimiliki bayi itu tidak diperlukan lagi, maka darah memecah dirinya sendiri menjadi akumulasi – akumulasi proporsional dalam hati, which is menghasilkan zat yang disebut bilirubin atau pigmen yang berwarna kuning .             The thing is, what cause babies being yellow ? so lets bring the white board and make chart of differential diagnostic ...

when the man with asperger think about third theorys of newton

hmm.. and here we are again, Semua autis menerjemahkan apa yang dilihatnya dengan logika yang rumit dan secara harfiah, which means kita akan sibuk dengan segala macam penguraian dari tiap probabilitas kemungkinan – kemungkinan kenapa itu terjadi, in the other word kita  gak capable nerjemahin ambiguitas, karena menurut species kita, apa aspek fundamental  landasan prinsipil dan moralnya banyak orang suka bohong ? banyak orang pura – pura ?   jadi jiga naha sih kudu bohong ? urg gak ngomongin dosa itu mah urusan Tuhan lah, urg ngomongin soal logikanya, Why and How kitu tah .   Yah bukan hanya apa yang kita lihat saja kita coba urai dengan segala macam teori dan ukuran – ukuran etika deontologinya Immanuel kant, tapi apapun yang kita rasakan juga diterjemahkan dengan cara yang sama , persis sama pake pendekatan – pendekatan tesisnya Sigmund freud psikoanalisis .   Kebohongan yang kita buat untuk membuat kita merasa lebih baik disebut rasionalisasi, dan k...

Sigmund Freud dan Buku paririmbon

Apa itu mimpi ? mimpi adalah impuls – impuls, dari dorongan – dorongan traumatis juga insting – insting yang di bawa sejak lahir atau hadir dari satu kejadian tertentu yang direpresi atau ditekan/ dialihkan dari alam sadar menuju alam bawah sadar .   Dengan kata lain mimpi adalah sesuatu ingatan atau kehendak – kehendak yang ditahan ketika kita sadar dan disimpan dalam – dalam menuju alam bawah sadar .   Apa lantas dengan begitu kita bisa mengurai sesuatu informasi dari mimpi kita sendiri atau bahkan orang lain ? saya pikir probabilitas kemungkinannya besar untuk mengatakan iya, kenapa ? karena dikaji secara ilmiah .   Contoh kasus saya mengurai mimpi yang dikatakan teman saya, dia bilang “peuting urang mimpi digegel anjing terus banjir “.   Nah kita ambil semua simbol dari yang diselubungkan mimpi, apa aja itu ? a. digigit,  b, anjing  c, banjir   a. Apa yang kita rasakan ketika kita digigit sesuatu ? yaitu rasa sakit   b. Apa k...

Stop self-esteem!

Kalo kata para mahasiswa ketika kita bicara atau menulis sesuatu harus menyertakan catatan kaki, dan itu juga yang saya pelajari di buku ilmu komunikasi yang saya baca yang bukunya saya beli di balubur dengan harga diskon yang amat sangat merakyat .   Anyway saya gak peduli sama catatan kaki, kenapa ? saya gak lagi bikin disertasi, skripsi apalagi bikin puisi, saya cuman nulis apa yang seharusnya saya tumpahkan, yah cuman lewat tulisan saya tetap bermain – main dengan kesunyian ditengah para brengsek yang sering teriak – teriak seenaknya diluar sana dengan segala penilaiannya yang timpang yang landasan moralnya murni hanya keangkuhan yang rapuh tak berarah ( aww puitis kitu sa ).   Salahkah jika seorang yang tidak mengenyam pendidikan lanjutan seperti kuliah atau masuk universitas setelah selesai SMA, kemudian memilih untuk hanya menlanjutkan pendidikan melalui memperbanyak ilmu hanya dengan membaca buku, kemudian mengklaim dirinya sendiri sebagai orang yang berpendidikan...