Posts

Terbentur, terbentur kemudian terbentuk: the experiences of daily activites at UKRI

  Pernahkah kalian berada di dalam suatu situasi dimana dua perasaan bercampur aduk secara bersamaan pada konteks tertentu? Yap, jika memang pernah merasakan, maka seperti itulah perasaan penulis saat ini. Konteks kejadian campur aduk perasaan ini adalah pengalaman penulis belajar selama hampir empat tahun lamanya di kampus, dan hanya tinggal satu langkah terakhir lagi untuk mengakhiri karir universitas yang sedang dijalani. Pada satu sisi, penulis merasa gembira karena hanya satu langkah lagi penulis akan menyelesaikan studinya, sisi yang lain adalah keharuan yang bisa dibilang bukan rasa sedih, tapi perasaan pilu bahwa penulis akan meninggalkan panggung atau tempat yang mewadahi kreatifitas yang kompetitif dilingkungan yang positif, meninggalkan panggung bagi orang-orang yang menunjukan kecerdasan, integritas, disiplinitas, serta panggung bagi diskursus-diskursus yang bersifat paradigmatik, panggung bagi orang-orang produktif untuk terlibat dengan kegiatan kemahasiswaan, panggu...

Jati diri dan yang keliru dari millenials sebagai generasi post-modernisme yang gagal memaknai filsafat stoicisme sebagai jalan ninja di kehidupan modern

     Sebenarnya kebanyakan Post-modernis yang menganut ajaran stoicism yang ramai empat tahun belakangan ini keliru mengartikan titik atau core dari ajaran Zeno itu sendiri. Saya paham mengapa ajaran Zeno bisa menyimpang karena interpretasi memang subjektif ia secara dinamis mengembang menuju arah singularitas pemahaman yang bias berdasarkan pengetahuan dan pengalaman seseorang. yang seringkali dipahami oleh millenials (post-modernism) saat ini soal stoicism justru sering kali dijadikan alat justifikasi untuk tak berani memenuhi segala tanggung jawabnya sebagai seorang manusia untuk mandiri dan kompeten. alih-alih berjuang, mereka malah cenderung mengatakan "ah, enjoy.." dan melanjutkan kehidupan no-lifenya, merasa exclusive, yang padahal bisa jadi perasaan itu berangkat dari sense of inferiority, terlepas dari apapun yang sering mereka labeli dengan istilah "PTSD" ( post traumatic syndrom disorder ).       Zeno mengatakan bahwa core dari ajaranny...

Is there something worse rather than procrastinating?

   One day, sometimes I wondered and asked myself, did I ever do procrastinating? then my answer is always as same as usual, I did. but wait, even if I did that, I always have a version of the definition of that term.     The definition of procrastinating for me is not the same as well as other people will agree refers to the literal meaning of that word which is as a reference to physical and mental exhaustion, instead, my definition of procrastinating is a pause or freeze moment due to experiencing intolerable circumstances. then what are intolerable circumstances? they are not effects by non-physically and mentally exhausted, because they were controllable, they are situations that probably could not be controlled such as noise from your neighborhood activities like rebuilding a house, tantrums of children, or music with a high level of volume.    When all those things happened or one of those things occurs, I always doing the pr...

Emotional management fulfill mindset for gen Z

  In order to finish this subject in English for Business, I’m trying to write this feature semi opinion to deliver and formulate my thoughts into words about emotional management and fulfilling the mindset for Gen z. First, we have to regulate and know what emotion itself is, second we have to know how to manage what comes out from our emotions, and third what is mindset and also what is correlation between mindset and happiness.  According to the American Psychological Association (APA), emotion is defined as “a complex reaction pattern, involving experiential, behavioral, physiological elements.” Emotions are how individuals deal with matters or situations they find personally significant. Based on this explanation, we know that emotions related to our experiences which would lead to our behavior then as result would affect our physiology. In other words, it means the fact that emotions have their own role which regulate our system of cognition that usually separate into th...

Saya dan Pragmatik

  Selama proses pengumpulan teori, argumen, metode dan cara analisis data untuk penelitian ada pertanyaan yang mendadak hadir di benak saya. Pertanyaan itu adalah “ kapan sebenarnya bahasa menjadi perhatian utuh saya?” saya rasa dan mungkin barangkali semenjak seorang teman merekomendasikan satu buku yang berjudul “Dunia Sophie”, beliau mengatakan bahwa sepertinya jenis buku itu akan cocok dibaca saya. Buku itu buku pengantar filsafat, bukan buku yang sulit dibaca karena bagi saya buku itu, adalah jenis buku filsafat yang mudah dimengerti dan menyenangkan untuk dibaca. Kendatipun demikian, buku itu juga menyuguhkan sesuatu yang khas filsafat, yaitu cara berpikir dekonstruksi, kritis, nakal dan cenderung frontal, merongrong pemahaman kita terhadap segala sesuatu yang pernah kita ketahui dan yakini sebagai suatu hal yang sudah tidak perlu lagi dipertanyakan. Sampai sana, sebenarnya isi dari buku filsafat itu tidak terlalu istimewa, namun buku itu menjadi penting sebagai jalan awal pa...

Korelasi Postulat Jean Paul Sartre mengenai Eksistensi mendahului Esensi pada pemuda yang gandrung dengan Knalpot Racing

  Apa opini saya terhadap mereka yang senang dengan model/jenis knalpot racing yang dipasang di motor-motor matic? Menurut saya para pemuda itu adalah pemuda yang sedang mengalami existential transformative value (Husserl, 1859). Apa itu Existential Transformative Value? Itu adalah jenis transformasi perasaan ( shifting consciousness through experience ) yang dialami seseorang ketika mengalami suatu peristiwa tertentu. Prilaku ini sering kali terasa nyata atau kongkrit sekaligus valid rasanya secara transedental bagi mereka yang mengalami kejadian itu. Secara fenemonologis kesadaran ini pun di sebut situasi “terlempar” (Heidegger, 1889) artinya ia sendiri secara otentik dan reflektif sadar sepenuhnya pada kenyataan bahwa ia “ada” dan terpusat pada kehadiran eksistensinya, berangkat dari sana, orang-orang ini melakukan tindakan “mengada” pada realitas untuk mengukuhkan realitas baru dari kesadaran atas eksistensinya. Dan keyakinan ini disebut ilusi ( it seems like good or worst depe...

Laki-laki Ideal adalah Mereka yang Kompeten secara General

Masyarakat indonesia saat ini sudah begitu mahfum dengan kondisi teknologi, informasi serta gaya hidup yang juga sudah berubah. Sejauh apa kemudian perubahan itu? Sejauh hingga orang-orang mulai tidak menghargai dan memandang bahwa sebuah proses adalah keniscayaan yang harus dilalui oleh seseorang ketika kita ingin meraih keberhasilan. Keberhasilan seperti apa? Apapun itu. Yang sudah pasti baik, baik yang seperti apa? Baik secara sosial dan baik secara individual. Individu saat ini yang dijejali segala macam informasi dari kemajuan teknologi sering kali salah kaprah memaknai fenomena ini. Mereka tak jarang mentah-mentah menerima apapun yang mereka terima tanpa mengkritisi terlebih dahulu informasi-informasi yang mereka terima. Salah satu jenis informasinya adalah flexing. Atau pamer harta kekayaan. Lantas kemudian apa pengaruh buruk informasi ini pada individu-individu yang ada saat ini? Ialah tak lain, cara mereka memandang hidup. Kehidupan sejatinya tidak bisa dipandang mudah, te...