Kepakaran Nggak Mati — Dia Cuma Bermigrasi (Sebuah diskusi panjang tentang dua buku, satu sungai, dan satu pendeta-insinyur dari Varanasi).

Tulisan ini bukan sekadar review buku. Ini adalah hasil dari satu sesi diskusi yang mengalir — antara saya dan Claude (AI dari Anthropic) — yang dimulai dari pertanyaan sederhana soal judul buku, dan berakhir jadi refleksi yang cukup dalam soal apa artinya "benar-benar ahli" di dunia sekarang.

Saya lagi baca dua buku secara bersamaan: The Death of Expertise (Matinya Kepakaran) karya Tom Nichols, dan Think Like an Engineer karya Guru Madhavan. Keduanya terasa seperti sedang berdebat satu sama lain di kepala saya.

The Death of Expertise — Tom Nichols (2017) | Terjemahan Indonesia: Matinya Kepakaran, penerbit KPG, 2018
Think Like an Engineer — Guru Madhavan (2015)

Mulai dari sebuah pertanyaan

Diskusi ini dimulai dari hal yang sangat sederhana.

Saya
Kamu tahu judul buku matinya kepakaran?
Claude
Tahu dong! Judul aslinya The Death of Expertise, karya Tom Nichols. Diterjemahkan ke Indonesia sebagai Matinya Kepakaran, diterbitkan oleh KPG pada 2018. Edisi aslinya terbit 2017.

Tapi dari situ, saya mulai berbagi sesuatu yang sudah lama terngiang.

Argumentasi saya: kepakaran mati di mana?

Saya
Menurutku jika argumentasi terkait matinya kepakaran didasarkan pada tuduhan orang-orang post-modernisme yang berargumentasi berdasarkan sumber bacaan google dan AI dengan modal copy paste, ya aku setuju. Kepakaran mati dalam level intelektual diskursus yang sifatnya konversasional. Tapi ketika aku membaca buku Think Like an Engineer karya Guru Madhavan di Bab 5 — yang ngebahas soal orang-orang non-engineer yang menjadi engineer dan menyelesaikan masalah dari segala macam keterbatasan — aku nggak percaya bahwa kepakaran mati. Justru engineer tumbuh karenanya.
Claude
Ini argumen yang tajam. Kamu pada dasarnya sedang membedakan dua level kepakaran: kepakaran diskursif (kemampuan berargumentasi di ruang publik) dan kepakaran praktis (kemampuan menyelesaikan masalah nyata dengan constraint nyata). Di level diskursif, Nichols benar. Tapi Madhavan menunjukkan bahwa kepakaran tidak harus lahir dari jalur formal — ia bisa tumbuh dari constraint, konteks, dan kesediaan untuk duduk bersama masalah cukup lama.

Tegangan yang menarik: apakah engineer yang tumbuh dari constraint itu menggantikan kepakaran formal, atau justru sedang membangun kepakaran dengan cara yang berbeda? Kalau ia berhasil menyelesaikan masalah teknis nyata — bukankah ia telah menjadi pakar, hanya dengan jalur yang berbeda?

Posisi saya: kategori berbeda, bukan hierarki

Saya
Menurutku lebih ke arah kategori yang berbeda saja — dan masih tetap layak dihormati.
Claude
Itu posisi yang elegan. Kamu pada dasarnya sedang mengatakan bahwa kepakaran itu plural, bukan hierarkis tunggal. Ada lebih dari satu jalur yang legitimate menuju kompetensi — dan itu tidak harus dimediasi oleh gelar atau institusi formal. Yang mati bukan kepakarannya, tapi gatekeeping-nya.

Bab 5 Think Like an Engineer: Solutions Under Constraints

Dari diskusi itu, saya memutuskan untuk menjadikan Bab 5 Madhavan sebagai bahan konten — dengan Mishra sebagai jantung ceritanya. Bab ini berjudul Solutions Under Constraints, dan dimulai dengan gambaran Varanasi yang sangat hidup.

"Varanasi is a microuniverse of gods, mystics, and mendicants. An ancient town in north India, it's home to more than twenty thousand temples. The centerpiece of Varanasi is the Ganges — or 'Mother Ganga,' as it's fondly called."

— Guru Madhavan, Think Like an Engineer

Madhavan pergi ke Varanasi untuk satu tujuan: menemui Veer Bhadra Mishra. Seorang yang ia sebut sebagai "holy engineer."

Mishra lahir dari keluarga Brahmin ortodoks. Ayahnya adalah mahant — imam besar — Sankat Mochan, salah satu kuil Hanuman paling berpengaruh di Varanasi. Ketika ayahnya wafat mendadak, Mishra yang baru 12 tahun langsung memegang posisi itu. Tapi ia juga punya ketertarikan besar pada sains. Ia akhirnya meraih PhD di bidang teknik sipil dan mekanika fluida, dan menjadi profesor di Banaras Hindu University.

Satu orang. Dua identitas. Dan misi hidup yang tidak bisa diselesaikan oleh salah satunya saja.

Masalah Gangga: bukan soal teknologi

Tingkat kontaminasi feses di titik-titik tertentu Sungai Gangga mencapai 3.000 kali di atas batas aman WHO. Ribuan liter limbah domestik dan industri dibuang ke sungai setiap hari. Antara 60.000 hingga 75.000 orang menggunakan sungai itu di Varanasi setiap harinya — mandi, berdoa, menghanyutkan abu jenazah.

Pemerintah sudah coba. Tahun 1986, India meluncurkan Ganga Action Plan bernilai jutaan dolar. Hasilnya? Mishra sendiri mendokumentasikan kegagalannya. Pabrik pengolahan limbah dibangun, tapi sering mati karena pemadaman listrik — dan saat mati, limbah langsung mengalir ke sungai.

Masalah teknisnya, kata Mishra, sebenarnya bukan yang tersulit. Yang sulit adalah ini:

Madhavan menyebutnya psychological constraint — bagaimana meminta komunitas menerima air daur ulang untuk ritual yang mereka anggap sakral? Tradisi, seperti yang ia tulis, sering mengalahkan logika.

Mishra mengidentifikasi tiga lapis constraint: fisik (memasang sewer line di infrastruktur kuno), ekonomi (pembiayaan), dan psikologis (resistensi budaya-agama). Ia tidak melawan layer ketiga itu. Ia membangun solusinya di sekitarnya.

Sebagai imam besar, Mishra berbicara kepada warga dalam bahasa yang mereka percaya. Ia bilang jangan buang sampah ke Gangga. Dan karena itu datang dari seorang ulama — bukan dari pamflet pemerintah atau laporan NGO — mereka mendengar.

"Hearing this from a priest was like a message from the gods, and people listened. The effect could not be achieved by technology alone."

— Guru Madhavan, Think Like an Engineer

Alan Turing pernah berkata: sains adalah persamaan diferensial, tapi agama adalah kondisi batasnya. Mishra tidak melawan kondisi batas itu. Ia justru menggunakannya.

Persistensinya akhirnya diakui dunia. Time magazine menamakannya Hero of the Planet. Ia berbagi panggung dengan Presiden Bill Clinton saat kunjungan presidensial ke India. Clinton kemudian bercerita kepada hadirin di Hyderabad bahwa ia bertemu seorang insinyur yang membersihkan sungai yang ia sembah sebagai bagian dari imannya dan sejarah negaranya.

Mishra wafat pada Maret 2013. Putranya, Vishwambar — juga insinyur dan profesor di universitas yang sama — melanjutkan perjuangan itu. Ia berkata kepada Madhavan:

"An engineer knows how to transform and how to introduce new things in a tradition. Basically, we are in a relay race, aren't we?"

Kesimpulan: kepakaran nggak mati

Nichols benar bahwa ada krisis di ruang percakapan publik. Modal googling lima menit dan opini kuat bukan kepakaran. Tapi Nichols tidak sepenuhnya mempersoalkan jalur menuju kepakaran itu sendiri.

Madhavan, melalui Mishra, menunjukkan sesuatu yang lebih dalam: kepakaran yang paling powerful adalah yang tidak memilih antara dua identitas yang masyarakat anggap tidak bisa berdampingan. Bukan pendeta saja, bukan insinyur saja — tapi keduanya, sepenuhnya.

Ancaman terbesar bukan kepakaran yang menghilang. Tapi gambaran kita tentang kepakaran yang terlalu sempit — harus linear, harus berbasis gelar, harus steril dari budaya dan konteks.

Amatir paling berbahaya bukan yang tidak punya gelar. Tapi yang — ada gelar atau tidak — tidak punya kesabaran untuk benar-benar memahami masalahnya sebelum menawarkan solusi.

Kepakaran nggak mati. Tapi dia selalu minta lebih dari sekadar titel.


Referensi bacaan:
— Think Like an Engineer, Guru Madhavan (2015)
— The Death of Expertise / Matinya Kepakaran, Tom Nichols (2017/2018)

Comments

Popular posts from this blog

Sekolah Pranikah Salman - Batch 18

Terbentur, terbentur kemudian terbentuk: the experiences of daily activites at UKRI

Is there something worse rather than procrastinating?