Posts

"Pemrograman sebagai Filsafat Bahasa Tingkat Tinggi: Perspektif Seorang Lulusan Sastra Inggris yang Terjun ke Dunia Teknologi"

Image
Sebagai seorang lulusan sastra inggris dengan minat yang condong pada linguistik, saya memandang Bahasa pemrograman dari sudut pandang lingusitik dengan cara yang berbeda, seolah semua kejadian itu adalah peristiwa baru, meski pernah mengalami, namun perasaan dan kesadaran yang terbangun sangat berbeda dari sebelumnya. Kesadaran terhadap persitiwa ini jika dilihat dari sudut pandang filsafat Husserl dan Heideger tentang fenemonologi disebut dengan terlemparnya kesadaran eksistensial pada realitas lain/baru/maya, yang menyebabkan seseorang tersadar dan sepenuhnya bangun, fokus pada peristiwa yang sedang terjadi (Dasein). Contoh, saat kita hampir saja mengalami kecelakaan lalu lintas dengan sepeda motor, namun selamat sepersekian detik dari tragedi tertabrak, keinsyafan, dan ke mahfuman kita terhadap kesadaran itu adalah dasein, kita terlepas dari realitas nyata, terhubung secara transedental pada realitas yang lebih sublim dan intim dengan tragedi dan kengerian yang dibayangkan yang mun

Komputasi, Lingustik, dan Dasein ala Heidegger

Selang beberapa bulan setelah yudisium, Saya diundang pada suatu acara meeting online untuk membahas berkenaan akreditasi jurusan. Selama berlangsungnya meeting online, Ibu Sri selaku ketua jurusan menanyai kabar dari masing-masing peserta meeting. Ibu Sri kemudian menanyai kabar saya, dan bertanya "Rez, Kamu apa kabar? Kerja dimana sekarang?", pertanyaan Ibu Sri waktu itu hanya saya jawab singkat, semacam "Jadi Software Quallity Assurance, Bu.. di PT. Arkamaya ", Ibu yang kurang familiar dengan istilah itu balik bertanya berkenaan jenis pekerjaan macam apa itu, dan saya terangkan sesingkat mungkin bahwa itu jenis pekerjaan yang berhubungan dengan pengujian aplikasi berbasis web atau mobile, tugasnya mencari defect/cacat pada functionalitas fungsi-fungsi yang menjadi kebutuhan standar user(client). Tidak berhenti disana, Ibu Sri bertanya pada saya tentang bagaimana bisa seseorang yang jurusan kuliahnnya saat itu adalah sastra inggris dengan penjurusan linguistik,

Terbentur, terbentur kemudian terbentuk: the experiences of daily activites at UKRI

  Pernahkah kalian berada di dalam suatu situasi dimana dua perasaan bercampur aduk secara bersamaan pada konteks tertentu? Yap, jika memang pernah merasakan, maka seperti itulah perasaan penulis saat ini. Konteks kejadian campur aduk perasaan ini adalah pengalaman penulis belajar selama hampir empat tahun lamanya di kampus, dan hanya tinggal satu langkah terakhir lagi untuk mengakhiri karir universitas yang sedang dijalani. Pada satu sisi, penulis merasa gembira karena hanya satu langkah lagi penulis akan menyelesaikan studinya, sisi yang lain adalah keharuan yang bisa dibilang bukan rasa sedih, tapi perasaan pilu bahwa penulis akan meninggalkan panggung atau tempat yang mewadahi kreatifitas yang kompetitif dilingkungan yang positif, meninggalkan panggung bagi orang-orang yang menunjukan kecerdasan, integritas, disiplinitas, serta panggung bagi diskursus-diskursus yang bersifat paradigmatik, panggung bagi orang-orang produktif untuk terlibat dengan kegiatan kemahasiswaan, panggung b

Jati diri dan yang keliru dari millenials sebagai generasi post-modernisme yang gagal memaknai filsafat stoicisme sebagai jalan ninja di kehidupan modern

     Sebenarnya kebanyakan Post-modernis yang menganut ajaran stoicism yang ramai empat tahun belakangan ini keliru mengartikan titik atau core dari ajaran Zeno itu sendiri. Saya paham mengapa ajaran Zeno bisa menyimpang karena interpretasi memang subjektif ia secara dinamis mengembang menuju arah singularitas pemahaman yang bias berdasarkan pengetahuan dan pengalaman seseorang. yang seringkali dipahami oleh millenials (post-modernism) saat ini soal stoicism justru sering kali dijadikan alat justifikasi untuk tak berani memenuhi segala tanggung jawabnya sebagai seorang manusia untuk mandiri dan kompeten. alih-alih berjuang, mereka malah cenderung mengatakan "ah, enjoy.." dan melanjutkan kehidupan no-lifenya, merasa exclusive, yang padahal bisa jadi perasaan itu berangkat dari sense of inferiority, terlepas dari apapun yang sering mereka labeli dengan istilah "PTSD" ( post traumatic syndrom disorder ).       Zeno mengatakan bahwa core dari ajarannya (stoics) ialah vi

Is there something worse rather than procrastinating?

   One day, sometimes I wondered and asked myself, did I ever do procrastinating? then my answer is always as same as usual, I did. but wait, even if I did that, I always have a version of the definition of that term.     The definition of procrastinating for me is not the same as well as other people will agree refers to the literal meaning of that word which is as a reference to physical and mental exhaustion, instead, my definition of procrastinating is a pause or freeze moment due to experiencing intolerable circumstances. then what are intolerable circumstances? they are not effects by non-physically and mentally exhausted, because they were controllable, they are situations that probably could not be controlled such as noise from your neighborhood activities like rebuilding a house, tantrums of children, or music with a high level of volume.    When all those things happened or one of those things occurs, I always doing the procrastinating itself, because it obviously would be ma

Emotional management fulfill mindset for gen Z

  In order to finish this subject in English for Business, I’m trying to write this feature semi opinion to deliver and formulate my thoughts into words about emotional management and fulfilling the mindset for Gen z. First, we have to regulate and know what emotion itself is, second we have to know how to manage what comes out from our emotions, and third what is mindset and also what is correlation between mindset and happiness.  According to the American Psychological Association (APA), emotion is defined as “a complex reaction pattern, involving experiential, behavioral, physiological elements.” Emotions are how individuals deal with matters or situations they find personally significant. Based on this explanation, we know that emotions related to our experiences which would lead to our behavior then as result would affect our physiology. In other words, it means the fact that emotions have their own role which regulate our system of cognition that usually separate into three paths

Saya dan Pragmatik

  Selama proses pengumpulan teori, argumen, metode dan cara analisis data untuk penelitian ada pertanyaan yang mendadak hadir di benak saya. Pertanyaan itu adalah “ kapan sebenarnya bahasa menjadi perhatian utuh saya?” saya rasa dan mungkin barangkali semenjak seorang teman merekomendasikan satu buku yang berjudul “Dunia Sophie”, beliau mengatakan bahwa sepertinya jenis buku itu akan cocok dibaca saya. Buku itu buku pengantar filsafat, bukan buku yang sulit dibaca karena bagi saya buku itu, adalah jenis buku filsafat yang mudah dimengerti dan menyenangkan untuk dibaca. Kendatipun demikian, buku itu juga menyuguhkan sesuatu yang khas filsafat, yaitu cara berpikir dekonstruksi, kritis, nakal dan cenderung frontal, merongrong pemahaman kita terhadap segala sesuatu yang pernah kita ketahui dan yakini sebagai suatu hal yang sudah tidak perlu lagi dipertanyakan. Sampai sana, sebenarnya isi dari buku filsafat itu tidak terlalu istimewa, namun buku itu menjadi penting sebagai jalan awal pada g